http://oleh-olehkhasjambi.blogspot.com/

Rabu, 22 Februari 2017

Tanjak atau Lacak Melayu Jambi

Siap-siap kondangan yuk! Batik sudah, celana oke, sepatu siap, yakin tak ada yang kurang. Biar tambah gagah, yuk pakai tanjak! Kapan lagi jadi anak muda berpenampilan dan sadar budaya. Nah untuk kanti-kanti yang belum punya, jangan khawatir, di gerai Jakoz... belambun jok!! Eh, bisa juga dipakai untuk acara gathering, pelantikan, pertemuan, rapat, jalan-jalan dsb. Yuk, Banggakan Jambimu! Gerai: Jl. Kol. Amir Hamzah, Sei. Kambang, Telanaipura, Kota Jambi. Phone: 0821 8024 9500 Instagram: jakoz_beyik web: kaosjakoz.com *Melayani pengiriman luar kota. #tanjakmelayu #lacakmelayu #tengkolokmelayu #tanjak #lacak #tengkolok #tanjakjambi #ayobetanjak #melayujambi #jakoz #jakozbeyik #jambipunyakaos #destinasibelanjajambi #destinasiwisatajambi #kaosjambi #kuluk #kulukjam

Lacak Melayu Jambi

Di Jawa orang memakai Blangkon. Di Sunda, disebut Iket atau Totopong. Di Bali ikat kepala disebut Udeng. Daerah-daerah serumpun Melayu semacam Riau, Sumatera Selatan, Kepri, beberapa ada yang menamai ikat kepala tersebut dengan Tanjak atau Lacak. Ternyata di Malaysia pemakaian Tanjak tidak kalah populer dibandingkan tanah air. Sebut saja penamaan Tanjak mereka; Tanjak Lang Patah Sayap, Tanjak Laksamana Terengganu, Tanjak Tebing Runtuh, Tanjak Lang Melayang dll. Lacak adalah kain penutup kepala yang didesain sedemikian rupa. Ikat kepala yang acap dipakai mempelai laki-laki dalam acara pernikahan adat Melayu Jambi sejak jaman dahulu. Pasangan lacak adalah Kuluk atau Tengkuluk (ikat kepala untuk wanita Melayu Jambi). Di Jambi kabarnya daerah Tanjung Jabung, Pesisir timur Sumatera, juga punya ciri khas tersendiri baik corak maupun bentuk Tanjak/ Lacak. Banggakan budayamu!

Senin, 04 Juli 2016

CATALINA RI 005; dari Australia ke Jambi

Siapa pria ini?... Dia bernama RR Cobley, mantan penerbang Royal Australia Air Force (RAAF) pada Perang Dunia II. Awalnya Pesawat pribadinya disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi untuk kepentingan perjuangan menghadapi Belanda pada Agresi Militer Belanda II. Tibanya Belanda ke Jambi sudah diketahui oleh Kolonel Abundjani selaku Kepala TNI Sub Territorium Djambi (STD). Beliau berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu pangkalan udara Belanda di Talang Sumut, Palembang. Maka untuk merealisasikannya Jambi butuh bantuan pesawat. Oleh pemerintah RI dibelilah pesawat milik RR Cobley tersebut dan diganti nama menjadi CATALINA RI 005 (Berarti ada, dong no nomor register pesawat 001-004?). Pilotnya tentu saja masih RR Cobley. Catalina RI 005 merupakan pesawat amfibi dengan 2 mesin baling-baling buatan Pratt & Whitney yang mampu membawa ranjau laut, aneka bom, terpedo, dan senapan mesin kaliber 50 mm Coba kita lihat, dari mana saja perjalanan pesawat amfibi milik RR Cobley ini dari Australia menuju Jambi dari tahun 1947-1948; Australia - Tulung Agung (mendarat di Danau Tulung Agung) – Jambi (mendarat di Sungai Batanghari) – Bukit Tinggi – Prapat – Banda Aceh – Tanjung Karang (Lampung) – Yogyakarta – Singapura. Selain akan menyerang pangkalan udara Belanda di Talang Sumut tersebut, peran besar Catalina RI 005 selama dua tahun ini ada 4 poin: 1) Penghubung komando militer dengan Komandemen Sumatera di Bukit Tinggi serta pemindahan perwira-perwira tinggi dan menengah dari Yogyakarta, termasuk pengiriman barang-barang untuk kebutuhan militer di Yogyakarta. 2) Penghubung beberapa kota yang disebut tadi juga ke Singapura. 3) Membawa logistik seperti; makanan, pakaian, dan perlengkapan militer dan sipil. 4) Membawa minyak mentah dan hasil bumi dari Jambi untuk dijual ke Singapura dan Thailand. Pulangnya, pesawat ini membawa senjata dan amunisi untuk para pejuang. Target itu tidak tercapai sebab kerusakan mesin Catalina RI 005 hingga gagal menyerang pangkalan udara dimaksud dan Belanda berhasil menduduki Jambi Desember 1948. Agar Belanda tidak menguasai pesawat ini maka para pejuang berusaha memindahkan dari Sungai Batanghari menuju Singapura. Gagalnya Catalina RI 005 take off dari Sungai Batanghari dikarenakan rusaknya satu mesin, pesawat oleng dan menabrak tongkang yang sengaja ditenggelamkan melintangi sungai sebagai upaya mencegah masuknya Belanda ke pedalaman Jambi. Naas. Sayap pesawat patah dan tenggelam ke sungai. Sang pilot RR Cobley dan mekanik Opsir Muda Udara, Jon Londa meninggal. Prangko sang penumpang, seorang Kepala Tata Usaha Markas Pertahanan Surabaya, selamat. Bangkai pesawat ini diangkat dari Sungai Batanghari bulan Agustus 1991. Kini dapat kamu temukan sekarang wujudnya yang elok seperti asli di depan Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Di depan menara air atau di seberang kawasan Masjid 1000 Tiang. Ayo ke Jambi! (diolah dari berbagai sumber)

Minggu, 05 Juni 2016

Di Jambi Ada Timur Tengah

Pemandangan yang tampak antara kota Jambi dengan Seberang Kota Jambi (Sekoja) amatlah kontras. Sebelah selatan penuh gedung menjulang sementara sebelah utara terasa ‘kampung’ –nya. Sekoja terletak di utara yang masuk wilayah kota Jambi. Padahal dahulu kala di tempat inilah sebagai pusat ibukota Jambi. Suasana religi amat terasa dengan penduduk nan ramah. Khas Melayu. Banyak masjid, madrasah dan pondok pesantren tertua di sini. Adalah Datuk Sintai sebagai pembawa agama Islam pertama di Jambi, kira-kira 400 tahun lalu. Makamnya dapat kamu temukan di Kelurahan Mudung Laut, Kec Pelayangan. Kabarnya, Datuk Sintai adalah pejuang Islam di Jambi dari Cina. Sehingga, daerah Olak Kemang sampai Arab Melayu juga dikenal sebagi Kampung Pecinan-nya Jambi. Tapi ada satu tokoh lagi yang amat terkenal dikalangan masyarakat yakni bernama Sayid Husin Bin Ahmad Baragbah. Beliau adalah penyebar agama Islam keturunan Arab yang menikah dengan salahsatu anaknya Datuk Sintai.
Jadi jelaslah, terasa sekali suasana pecinan-nya. Arsitektur perpaduan Melayu, China, dan Timur Tengah. Coba perhatikan nama-nama daerah ini, amat kental rasa Timur Tengah-nya: Arab Melayu – Tahtul Yaman - Tanjung Raden – Tanjung Johor – Tanjung Pasir – Olak Kemang – Kampung Tengah – Ulu Gedong – Jelmu – Kampung Laut – Pasir Panjang

Sabtu, 26 Maret 2016

SHELTER GUNUNG KERINCI

3.805 mdpl? Itu tinggi banget, gaiz!!... Gunung Kerinci. Siapa yang tiada kenal gunung tertinggi di Sumatera ini? Apalagi bagi pencinta alam dan petualangan. Jadi semacam ‘menu’ wajib ke destinasi ini. Dahsyatnya, Gunung Kerinci merupakan gunung api teraktif di Asia tenggara. Jika kamu mau mendaki ke sini, maka jalur umum melewati desa Kersik Tuo, kecamatan Kayu Aro dekat dengan kota Sungai Penuh, provinsi Jambi. Kersik Tuo berada pada ketinggian 1.400 mdpl dengan penduduk yang terdiri dari para pekerja perkebunan keturunan Jawa, sehingga bahasa setempat adalah bahasa Jawa. Gunung Kerinci masih merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra yang perlu dilindungi. Ada beberapa fakta tentang Gunung Kerinci biar kamu ga penasaran apa, sih hebatnya gunung ini: 1. Pastinya merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan gunung berapi tertinggi di Asia tenggara 2. Masuk dalam kawasan TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat). TNKS, yang kabarnya masih banyak #harimau, adalah taman nasional terbesar di Indonesia. Bahkan TNKS masuk ke dalam 4 provinsi; Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. 3. Nama lain Gunung Kerinci adalah: Korinci, Berapi Kurinci, Puncak Indrapura dan Gunung Gadang (gede). 4. Menjadi World Heritage Site untuk Tropical Rainforest Heritage of Sumatera 5. Ditetapkan sebagai kawasan konservasi pada tahun 1982, yang berada di wilayah TNKS
Jika kamu naik sampai ke puncak gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif ini, apa aja yang bisa kamu lihat? OMG..kamu bisa liat view indah amat jelas; Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu bahkan Samudera Hindia . uniknya, Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Tentu saja ada Danau Gunung Tujuh. FYI, Danau Gunung Tujuh merupakan danau tertinggi di Asia tenggara. Keren, bukan? Ayo, angkat ranselmu. Mari berpetualang ke Jambi dan Kerintji!

Rabu, 23 Maret 2016

NGIRUP CUKO

Gimana rasanya #NgirupCuko?... Palembang amat terkenal dengan kuliner satu ini; Pempek. Padahal wilayah kerajaan Sriwijaya dan Melayu kuno dulu meliputi Sumatera bagian selatan termasuk Jambi dsb. Bahkan dari data penelitian yang ada bahwa kerajaan Sriwijaya pernah berpusat di DAS Batanghari yang sekarang masuk provinsi Jambi. Tepatnya sekitar percandian MuaraJambi sebagai situs percandian terluas di Asia Tenggara. Jadi kuliner ini hampir merata di wilayah sekitarnya. Okay, baiklah. Kita ga usah mempermasalahkan itu. Hmm, makanan ini tentu saja enak nian. Terbuat dari ikan yang dihaluskan dan sagu, serta beberapa komposisi lain seperti telur, bawang putih halus, penyedap rasa dan garam. Temannya adalah cuko (cuka) terbuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Terus adanya irisan dadu timun segar dan mie kuning. Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah ditumis dan dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Kabarnya dulu yang menemukan pempek atau empek-empek adalah si apek. Doi tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi). Ia merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek. Pempek bisa terbuat dari ikan belida, ikan tenggiri, gabus, kakap merah dll. Varian lainnya adalah laksan, tekwan, model, celimpungan dan lenggang. Pokoknya kalau datang ke Palembang atau ke #Jambi, ga lengkap juga ga bawa oleh-oleh Pempek. Lemak, nian Oy!

TAMAN RIMBA

TAMAN RIMBO with Zoo Airport Bisa jadi Jambi adalah satu-satunya yang didapuk sebagai Zoo Airport pertama di Indonesia. Keren, bukan? Wahana ini terintegrasi antara Kebun Binatang dan bandara Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi. Cuma 5 menit, kok ke sini. Jalan kaki dari bandara juga bisa. Jika kelamaan nunggu atau delay beberapa jam, mending main kesini aja. Cuma 8 ribu perak tiket masuknya. Taman Rimbo punya koleksi berbagai jenis burung dan hewan langka lainnya seperti: burung rangkok, pelican laut, elang, rajawali, bangau, burung unta, beruang hitam, gajah dan buaya. Harimau Sumatera sebagai ikon fauna Provinsi Jambi tentu saja ada. Untuk berbagai jenis burungnya ditempatkan di dalam ruangan seperti bola yang besar, sedangkan untuk hewan langkanya pengunjung bisa mendekat ke kandang masing-masing hewan langka dan bisa memberikan makanan kepada hewan tersebut. Ada juga gajah yang bisa kamu coba tunggangi yang siap mengantarmu berkeliling arena.
Dulu objek wisata ini dibangun awal tahun 80-an dan menjadi andalan wisata kota Jambi. Sekarang Taman Rimbo makin berbenah can tambah cantik. Terus koleksi hewannya juga bertambah. So, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau. Main kesini, yak.